Munir Seorang Aktivis Indonesia
Munir Seorang Aktivis Indonesia
Munir Said Thalib atau yang biasa dipanggil Munir. Beliau lahir lahir di Malang, Jawa Timur,
pada tanggal 8 Desember 1965. Ia dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia yang
sangat menjunjung tinggi toleransi, menghormati nilai-nilai kemanusiaan, anti
kekerasan. Beliau selalu berkomitmen untuk selalu membelas siapa saja yang
haknya terdzalimi. Beliaulah yang mendirikan Kontras (Komisi untuk Orang Hilang
dan Tindak Kekerasan) pada 16 April 1998 dan menjabat sebagai Dewan Kontras.
Karena
beliau tidak gila harta, pangkat, jabatan, dan juga fasilitas, beliau disebut
juga pria yang sederhana bahkan jika bekerjapun beliau hanya menggunakan sepeda
motornya walaupun ia memiliki banyak penghargaan.
Tentang beberapa
penghargaannya yaitu :
·
Right
Livelihood Award 2000, Penghargaan pengabdian bidang kemajuan HAM dan kontrol
sipil terhadap militer (Swedia, 8 Desember 2000)
·
Mandanjeet
Singh Prize, UNESCO, untuk kiprahnya mempromosikan Toleransi dan Anti-Kekerasan
(2000)
·
Salah
satu Pemimpin Politik Muda Asia pada Milenium Baru (Majalah Asiaweek, Oktober
1999)
·
Man
of The Year versi majalah Ummat (1998).
·
Suardi
Tasrif Awards, dari Aliansi Jurnalis Independen, (1998) atas nama Kontras
·
Serdadu
Awards, dari Organisasi Seniman dan Pengamen Jalanan Jakarta (1998)
·
Yap
Thiam Hien Award (1998)
·
Satu
dari seratus tokoh Indonesia abad XX, majalah Forum Keadilan
Banyak kasus
yang beliau tangani yaitu :
·
Kasus
Araujo yang dituduh sebagai pemberontak melawan pemerintahan Indonesia untuk
memerdekakan Timor timur dari Indonesia pada 1992.
·
Kasus
Marsinah (seorang aktivis buruh) yang dibunuh oleh militer pada tahun 1994.
·
Menjadi
penasehat hukum warga Nipah, Madura, dalam kasus pembunuhan petani-petani oleh
militer pada tahun 1993
·
Menjadi
penasehat hukum mahasiswa dan petani di Pasuruan, dalam kasus kerusuhan di PT.Chief
Samsung, dengan tuduhan sebagai otak kerusuhan pada tahun 1995.
·
Penasehat
hukum Muhadi (sopir) yang dituduh melakukan penembakan terhadap seorang polisi
di Madura, Jawa Timur pada 1994.
·
Penasehat
hukum para korban dan keluarga Korban Penghilangan Orang secara paksa 24
aktivis politik dan mahasiswa di Jakarta pada tahun 1997 hingga 1998.
·
Penasehat
hukum korban dan keluarga korban pembantaian dalam tragedi Tanjung Priok 1984
hingga 1998.
·
Penasehat
hukum korban dan keluarga korban penembakan mahasiswa di Semanggi I (1998) dan
Semanggi II (1999).
·
Penasehat
hukum dan koordinator advokasi kasus- kasus pelanggaran berat HAM di Aceh, Papua,
melalui Kontras.
·
Termasuk
beberapa kasus di wilayah Aceh dan Papua yang dihasilkan dari kebijakan operasi
Militer.
Munir
meninggal di Jakarta di dalam pesawat jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004
pada umur 38 tahun. Ketika itu, Munir sering bolak balik ke kamar mandi hingga
ia di pidah dudukkan disamping penumpang berprofesi dokter. Tetapi 2 jam
sebelum mendarat di tujuan, Munir diperiksa dan dinyatakan telah meninggal. Kabarnya
beliau tewas di bunuh dengan racun senyawa arsenikum. Setelah di selidiki,
seorang pilot Garuda yang sedang cuti, Pollycarpus Budihari Priyanto-lah yang
meracuni Munir. Jenazahnya dimakamkan di taman umu kota Batu. Ia
meninggalkan seorang istri bernama Suciwati dan dua orang anak, yaitu Sultan
Alif Allende dan Diva. Sejak tahun 2005, tanggal kematian Munir, 7 September,
oleh para aktivis HAM dicanangkan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Munir_Said_Thalib
https://mudazine.com/ibnusie/fakta-fakta-munir/
Komentar
Posting Komentar